Punk In Love

Kriiing….
“Ve… Noveeee….” panggilan—teriakan tepatnya—yang tak kuharapkan pagi ini.
“Yaaa…?” sahutku malas.
“Telepon tuh!” Makin keras teriakan Bubi.
“Cowok apa cewek?” balasku berteriak. Enggan rasanya meninggalkan hangatnya selimut.
“Cewek!” Jadi agak bersemangatlah buat menerimanya.
“Bangun, Bung. Jam sembilan tuh, nggak kuliah apa?” Rentetan pertanyaan langsung keluar begitu pintu kamarku terbuka. Sedang yang nanya malah asyik baca koran. Di TV reporter menawarkan sajian informasi pagi. Sepertinya Bubi tak ingin ketinggalan berita hari ini.
“Hallo….”
“Novi?” tanya selantun suara dari seberang horn.
“Ya, saya sendiri, dari siapa ya?” Tubuhku langsung tenggelam di kursi malas.
“Noviyanti?”
“Nggak lucu!” Aku paling nggak suka diledek begitu, tapi hanya beberapa orang yang tahu ‘nama jelek’-ku. Namaku yang diplesetkan dari Noveanto Tri Rukmana menjadi ‘Noviyanti’. Dih, memangnya aku banci apa?! Pasti, teman-teman SMA-ku. Siapa lagi?
“Dih marah, lupa, ya?” Tak ada sedikit pun nadanya berubah, tetap centil.
“Yusi?” tanyaku ragu, yang di seberang malah tertawa renyah.
“Baru bangun, Ve?” Tanya itu terlontar setelah si Empunya suara bernama Yusi itu puas tertawa.
“Baru mau tidur, Mbak! Semalam begadang nonton bola!” ujarku gondok. “Dari mana, nih?”
“Jakarta, iseng-iseng aja nelepon. Sempet nelepon ke Ella, dari dia aku dapet teleponmu. Kamu masih ngontrak aja, Ve?” Satu pertanyaan yang menekankan kata ‘masih’.
“Emang kenapa kalau aku masih ngontrak….”
“Kenapa? Nggak kenapa-kenapa. Cuma mau tanya harga cabe keriting?” Masih suka mempermainkan kata juga anak satu ini. Gaya bicaranya sama sekali belum berubah. “Ve-Ve! Kamu ini gimana, sih?”
“Oh, kirain kamu mau ngajak aku kemping bareng?” Kulontarkan selantun kalimat humor, membalas Yusi yang sedari tadi dengan norak menggodaku.
“Justru. Hei, asal jangan pakai acara tersesat lagi kayak dulu, ya?”
Kami tertawa bareng. Lalu aku mulai serius. “Oke, apa kabar, Si?” tanyaku.
“Yah, beginilah. Masih sehat-sehat saja. Kamu?”
“Sama….” Aku diam sesaat. “Kuliahmu gimana?” tanyaku dengan suara lamat.
“Kenapa kamu, Ve? Lagi suntuk?”
“Emang kenapa, nggak boleh nanyain kuliahmu?”
“Bukan, pertanyaanmu itu lho, seperti orang yang kehabisan ide cerita!”
“Terus terang aku bingung, Si. Mau nanya apaan? Ada ide?”
“Kamu pengarang, manfaatkan dong daya khayalmu. Dan lagi salahmu sendiri, kenapa surat-suratku nggak kamu balas.”
“Sori, Si. Aku sibuk!” jelasku berbohong. Tepatnya, malas!
“Sibuk mengkhayal, sibuk ngibulin orang lewat cerita pendekmu?” sambar Yusi cepat.
“Tapi, kan dapet duit,” ujarku sombong.
“Iya, sih. Tapi lupain aja terus temen jauhmu ini. Lupain….”
“Salah sendiri. Kenapa pindahnya jauh-jauh ke Palembang.”
“Alaaa, kalo deket juga percuma, paling yang ditraktir cuma si Yayangmu itu aja,” kata Yusi, lalu tertawa.
“Cemburu nih, ceritanya?”
“Ya, jelas cemburu dong!”
“Trus, yang di sono gimana?”
“Bokin maksud kamu? Nggak ada, Ve.”
“Ah, masa…?” godaku dengan hati sedikit berbunga.
Lalu tawa itu terputus dengan diam.
“Aku lagi pengen pulang ke Belitung, Ve.” Nada bicara Yusi berubah. “Bener-bener pulang, pengen balik ke SMA lagi….”
“Hei, ada apa nih? Kamu dilanda kasmaran ya, Si?” Aku masih mencoba memancing banyolan konyolnya.
“Di Palembang aku nggak nemuin temen kayak kita-kita dulu.” Pertanyaanku dicuekin. “Aku kangen sama kamu, Ella, Wiwik, Ronald, Abit, Yayan, Dedi, Uli. Aku pengen lihat tampang kalian setelah tiga tahun terakhir kemarin. Hm, rambutmu makin godrong kan, Ve?”
Aku tak menjawab.
Yusi melanjutkan cerocosannya. “Jelek, tahu nggak, Ve?! Mendingan rapi mirip foto kita di Pantai Tanjungkelayang.”
“Lagi malas potong aja, Si,” elakku.
“Kayaknya teman-teman berubah ya, Ve?”
“Wajar, kan? Orang harus berubah, kalau nggak mau ketinggalan kereta.”
“Dalam surat-surat mereka, surat kamu setahun yang lalu, termasuk telepon kita saat ini, ada kesan yang jauh banget. Terasa ada jarak yang sekian kilometer gitu. Ngerasa nggak, Ve?”
“Emang iya! Kamu telepon dari mana sekarang?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan, dosa tahu?!” Yusi separo mendamprat. “Aku lagi serius, Ve!”
“Oke, deh. Kalau kamu betul di Jakarta, gimana kalo siang ini kita ketemu?”
“Nggak bisa, soalnya hari ini aku harus pergi, Ve. Mungkin malah langsung pulang.”
“Emang dalam rangka apa ke Jakarta?” tanganku mengambil gelas kopi Bubi.
“Iseng aja, pengen ngegodain kamu, Ve.”
“Kamu telepon dari Palembang, Si?” selidikku. “Jangan bohong. Kamu bukan sedang di Jakarta, kan?”
“Asli. Aku di Jakarta. Aku nggak bohong. Aku telepon dari Horizon, kok.”
“Kerja di mana Mbak, tahu-tahu nginep aja di Hotel?” ejekku.
“Ada deh….” Yusi kumat lagi centilnya. “Nah, nah. Begitu, kan? Lupa teman lama.”
Yusi tertawa sebelum bilang. “Jatah, Ve. Aku ikut seminar di sini.”
“Wah, bahaya! Udah main seminar-seminaran.”
“Ini seminar benaran, Mas Noviyanti!”
Kali ini aku tidak tersinggung dipanggil ‘Noviyanti’. Aku terkekeh.
“Udah, ah. Ngomong sama kamu bikin pikiran nggak konsen.”
“Benar nih, udahan neleponnya?”
“Kasihan kamunya, Ve.”
“Kenapa?”
“Mulutmu udah berbusa, tahu!”
“Sial!”
“Yuuuk, Nove. Sampai ketemu lagi.”
“Ingat, Si. Dua tahun lagi reuni SMA.”
“Wah, sori. Aku nggak bisa….”
“Kenap…?”
Pertanyaanku belum selesai ketika bunyi ‘tut-tut-tut’ di sebarang sana memutus pembicaraanku dengan Yusi.
“Sialan!” makiku. Mana aku tak tahu ia tinggal di kamar nomor berapa di hotel!
“Anak SMA mana lagi yang mutusin kamu?” Bubi masih bertanya dengan gaya asal di sofa. Di layar kaca depannya masih ada durasi berita pagi yang menayangkan prakiraan cuaca.
Mending tidur lagi!
Dan dalam tidur aku bermimpi berjumpa dengan teman-teman SMA-ku. Bercanda di kantin, tertawa godain adik kelas. Dan aku lihat Yusi berdiri tersenyum di dekat pintu kelas. Damai sekali.

***

Dua hari kemudian….
Ehm, 022-2513465. Bandung. Aku mencoba mengingat-ingat nomor telepon Ella.
Nada panggil empat kali.
“Hallo?”
“Hallo… hei, La?” Kuakrabi suara mezosopran itu.
“Dari mana aja, Ve?” Ada nada cemas, senang dan kesal yang jadi satu.
“Dari tadi, La,” candaku, menanggapi pertanyaannya yang ‘Dari mana aja, Ve?’ dengan menjawabi ‘Dari tadi’.
“Aku telepon berkali-kali ke rumah, kamu nggak pernah ada.”
“Biasa, aku….?”
“Sibuk!” ujar Ella menimpali kalimatku yang belum rampung.
“La, liburan yuk?”
“Ve….” potong Ella cepat.
“Ssst…” Aku yang memotong. “Aku dulu yang cerita. Liburan semesteran kan, udah dekat nih. Kamu ada rencana pulang nggak?”
“Ke Belitung?” Ella bertanya seperti pikun.
“Bukan! Ke laut!” Aku mendesah jengkel, pura-pura sewot. “Ya emang ke mana lagi, Non?!”
“Ada apa sih? Emangnya kenapa?”
“Kenapa?!” tanyaku berbalik bak salesman. “Emangnya kamu nggak rindu ngumpul bareng. Kayak tiga tahun kemarin?”
Tak ada jawaban dari Bandung.
“La… hallo, hallo?” Semangatku bersua via suara sahabat lama menglayu seiring tanggapan apatis yang kuterima.
“Kamu belum dengar, Ve?” Tiba-tiba Ella dari seberang sana menayaiku dengan suara lunglai.
“Soal?”
“Soal Yusi!”
Ada apa dengan Yusi?! benakku mulai bertanya cemas.
“Tiga hari kemarin, Yusi dari Jakarta. Dia ikut seminar lingkungah hidup. Waktu pulang bis rombongannya….” suara Ella langsung serak.
Aku lunglai. Tanpa Ella lanjutkan lagi kalimatnya pun aku sudah tahu kelanjutannya.
“Aku coba nelepon kamu, tapi kamu nggak pernah di rumah,” kata Ella lagi. “Aku sudah coba menghubungi teman kita lainnya. Yusi….” Kalimatnya terputus oleh tangis.
Aku tak bisa bicara apa-apa lagi.
Diam. Hampa. Sampai Ella menutup teleponnya.
Lalu telepon dua hari yang lalu…?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: